Thursday, 1 December 2016

Bangun Karakter Bangsa Melalui Program Anak Cerdas


Nuni Sutyoko, Robert Gardiner, Anna Surti Ariani
Presiden Jokowi mentargetkan 75% dalam program pemerintah untuk mencerdaskan Bangsa dibidang keuangan melalui perbankan. Namun masyarakat yang memiliki akses perbankan baru mencapai 21,84 % (data World Bank), jadi angka ini belum mengenal literisasi pengolahan keuangan.

Selasa, 29 Nopember 2016 HSBC telah mengundang para blogger untuk turut mensosialisasi program Anak Cerdas bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) dengan pembicara Robert Gardiner selaku Exsecutive Director PJI, Nuni Sutyoko Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia dan Anna Surti Ariani sebagai Psikolog Anak.
Apa itu PJI ?
Prestasi Junior Indonesia (PJI) adalah salah satu pengajaran keterampilan keuangan dan meningkatkan kesadaran financial dalam mendidik generasi Indonesia. Dengan organisasi HSBC yang mempunyai lebih dari 27 program untuk siswa dari tingkat Sekolah Dasar hingga tingkat Perguruan Tinggi dan memberikan kesempatan bagi para professional bisnis untuk dapat terlibat dalam pendidikan generasi muda Indonesia.

Tahun 2016 adalah tahun kedua Program Junior Indonesia, oleh sebab itu HSBC telah melibatkan 150 orang guru dan 245 orang sukarelawan di 12 kota, meliputi kota Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Sidoarjo, Surabaya, Denpasar, Balikpapan, Menado, Makasar, dan Pontianak telah mencapai dan mendidik sebanyak 13.000 orang siswa kelas 3,4,5 dalam 31 Sekolah Dasar. Program anak cerdas ini HSBC telah memberikan indikasi positif tentang efektivitas program literisasi financial yang menyertakan nilai-nilai budi pekerti luhur seperti kejujuran dan telah mendidik anak-anak bagaimana mendahulukan kebutuhan dan keinginan yang mereka butuhkan.
Program Anak Cerdas ini diberikan dalam 5 sesi, pertemuan dilakukan selama 45 menit hingga 1 jam dalam 1 sesi. Untuk kelas 3 SD diajarkan untuk dapat mendahulukan kebutuhan dari pada keinginan, kelas 4 SD diajarkan untuk menabung dan berbagi dengan orang lain, kemudian kelas 5 SD diajarkan untuk lebih mengenal lingkungan.
Kesimpulan yang kita ambil “berpikirlah dengan bijaksana dan jadilah orang yang cerdas dalam menentukan pilihan dengan uang yang dimiliki”.    


Anak SDN 12 sedang belajar memilih antara kebutuhan dan keinginan
Kami para blogger mengikuti program anak cerdas ini terjun langsung ke dalam kelas untuk belajar bersama anak-anak SDN 12 Bendungan Hilir seperti ini : misalkan kita punya uang 10.000,-. Pertanyaanya mau dibelikan apa? 1 piring nasi goreng atau 2 potong roti, dan anak anak mulai memilih melalui tablet yang disediakan oleh pihak HSBC. Hasilnya 5 orang memilih nasi goreng dengan alasan porsinya banyak jadi bisa berbagi dengan teman, sedangkan yang memilih 2 potong roti ada 17 orang dengan alasan bisa berbagi teman. Dari hasil percakapan mereka membuktikan bahwa program anak cerdas dapat melatih anak untuk bisa menolong sesama teman.

Ibu Nuni Sutyoko mengatakan bahwa melalui aplikasi permainan edukatif di perangkat tablet, materi pembelajaran pada program anak cerdas dirancang sesuai dengan pola pikir dan usia anak. Siswa siswi di kelas 3 SD diajarkan pemahaman yang paling mendasar tentang perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, cara mendapatkan uang, mengelola dan menyimpan kelebihan uang hasil dari pendapatan, memanfaatkan uang untuk memenuhi kebutuhan, dan memanfatkan uang untuk kepentingan berbagi kepada sesama atau lingkungannya. Selain memasukkan unsur-unsur kejujuran dan komitmen, materi yang disampaikan kepada anak juga mengandung unsur-unsur pelajaran berhitung dan ilmu social kemasyarakatan
Menurut psikolog anak, ibu Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si mengatakan bahwa anak-anak di usia sekolah dasar masih berada di dalam proses pembentukan karakter, seperti 5 perkembangan anak yang perlu diketahui oleh orang tua yaitu : fisik, kecerdasan anak, bahasa, emosi atau mengendalikan diri dan sosial. Jadi pembangunan karakter yang kuat saat ini sangat dibutuhkan di Indonesia terhadap berbagai persoalan bangsa yang menyangkut integritas dan moralitas. Sebaiknya kita boleh mengenalkan kepada anak tentang uang, mulai dari manfaat uang dan penggunaannya, akan tetapi bila anak sudah bisa berhitung dengan benar. Selain itu jangan biasakan anak mendapatkan keinginannya dengan cara menangis, beri pengertian untuk mendapatkan sesuatu, dengan cara ini kita membentuk karakter pengendalian emosi. Anak yang terbiasa dengan literasi keuangan, bisa terhindar dari sifat tamak.

Yuk pahami anak dan ajarkan mereka pada nilai-nilai kemanusian serta pembentukan karakter untuk menjadi anak taat peraturan.       

   
Salam Blogger
Sumiyati Sapriasih
Email : sumiyatisapriasih@yahoo.com

 

2 comments:

  1. Iya bu, harus membedakan kebutuhan dan keinginan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak Echi Mustika sudah berkunjung dan berkomentar disini, anak sekarang sudah pada pinter ditambah program Anak Cerdas tambah pintar lagi :)

      Delete