Friday, 14 October 2016

Kerikil Kehidupan by Sumiyati Sapriasih


Kubuka hati ini
Kupejamkan mata ini
Jika Tuhan memberiku kesempatan
Izinkan aku merawatmu tanpa lelah
Karena kamu belahan jiwaku.

Itulah sajak kehidupanku. Setiap hari, aku bersenandung seraya menata langit biru, sebiru lautan yang luas. 
Rutinitasku dimulai pada pukul 04.30 WIB. Adzan berkumandang menyambut datangnya jamaah sholat Subuh. Alhamdulillah, aku dan keluargaku masih diberi kesempatan untuk menghirup udara segar.
“Bu … Nasi komplit pakai sayur, telur dan sambal goreng tempe, ya.
Terdengar suara lembut suamiku, Dadang, yang membantuku berjualan nasi di kantor.
Terlalu pagi mungkin, namun beginilah aktivitas kami, dimulai dari terbenamnya fajar hingga menjelang petang. Pelanggan pertamaku, adalah suamiku sendiri.
“Minumnya apa, Pak?”
“Biasa, Bu … Kopi susu, biar gak ngantuk.”
“Saya nasi campur ikan tongkol sama perkedel,” seru Pak Agus, menyahut ucapan suamiku.
“Eh, eh, ada Pak Dadang, pelanggan utama. Haha …” candanya.
“Iya, Pak Komandan. Aku sarapan duluan, ya …”
Tepat pukul 08.00 WIB, loket kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap sudah dibuka. Beberapa orang tampak antre di depan loket-loket yang tersedia. Kantor ini setiap hari selalu dipenuhi oleh orang-orang yang berkepentingan dalam penerbitan surat tanda nomor kendaraan yang dikaitkan dengan pemasukan uang ke kas negara, baik melalui pajak, bea balik nama kendaraan bermotor dan sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas jalan.

Tak lama kemudian terdengan suara dari pengeras suara memanggil Pak Sukiran sebanyak tiga kali. Tetapi yang dipanggil tidak menyahut. Petugas pun memanggil nama berikutnya hingga hari semakin siang dan tersisa beberapa orang lagi.
Di bangku pojok, kulihat seorang ibu sedang tertidur. Entah mengapa tiba-tiba ibu itu terbangun. Ia tergagap lalu bergegaslah dia ke depan, di hadapan loket dekat pengeras suara.
“Pak, apakah Sukiran sudah dipanggil?” tanyanya lirih.
Petugas itu memasang ekspresi tak suka. Katanya sewot,
“Kalau mau tidur, di rumah saja, Bu!” Jari telunjuk menujuk tepat pada muka si ibu.
Ibu itu beristigfar dalam hati. Tak berani dia menatap sang petugas, hanya suaranya yang pelan terucap,
“Maaf, Pak. Saya tidak mendengar …”
“Mana bisa Ibu mendengar? Wong Ibu tidur sambil ngorok begitu!” bentaknya.
“Sekali lagi maaf, Pak. Apa Sukiran sudah dipanggil?”
Kedua tangan petugas yang sebelumnya masuk ke dalam saku celana, kini berada di pinggang. Matanya melotot menatap si ibu.
“Sudah tutup! Besok saja datang lagi!” telunjuknya  menunjukakn arah jalan keluar.

Ibu itu terdiam sendu. Ia melangkah meninggalkan loket dengan tangan hampa. Aku yang mengetahui dengan jelas peristiwa itu, tidak bisa berbuat banyak. Aku harus melayani para pembeli yang semakin siang semakin berjubel, tidak bisa sejenak meluangkan waktu untuk menolongnya.
Hatiku hanya mampu menjeritkan tanya, Sudah merdekakah kita untuk rakyat kecil?
Aku bersyukur dengan hidup yang kujalani. Kehidupanku sudah cukup bahagia dengan seorang suami yang selalu ada di sisi, tiga orang anak dan seorang cucu, TO BE CONTINUED ... Buku Palingan Wajah Garuda

Kisah ini ditulis dalam buku cerita Palingan Gajah Garuda :

Pernahkah sedetik saja terpikirkan tentang nasib Negeri ini?
Apa arti “merdeka” dan maknanya pada kehidupan sebelumnya, kini dan nanti?
Benarkah segala bentuk penjajahan telah terhapus?
Sudahkan hak didapat?
Lalu tentang Lambang Negara, mengapa Cendrawasih atau Badak Bercula Satu?
Apa sebabnya Garuda diharuskan menengok ke kanan?
Cinta Indonesia berarti juga memahami negeri ini.
Siapkan segala Tanya, kuatkan hati, kemudian baca buku Palingan Wajah Garuda.
Semua akan terjawab.


Yuk … beli, baca, terapkan pada diri kita dan renungkan, masih banyak orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita, monggo dipersilahkan pesan buku ini ke 089616613396.


Salam Blogger
Sumiyati Sapriasih

21 comments:

  1. kontent bagus, tapi themenya kurang menarik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak Malena Fendi sudah berkunjung dan berkomentar disini, jangan di lihat themenya baca isi bukunya tentang kehidupan.

      Delete
  2. Replies
    1. Terima kasih Sampulpertanian sudah berkunjung dan berkomentar disini, siipp .. cerita tentang kejadian orang petinggi yg tidak punya bahasa yang baik :)

      Delete
  3. wah... udah bikin buku... keren
    good luck.. semoga laris yah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak Nova Violita sudah berkunjung dan berkomentar disini, sudah terbitkan 2 buku cerita : Cita-cita Cinta dan Palingan Wajah Garuda :)

      Delete
  4. Semoga bukanya laris ya, goodluck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas Asukan Chan sudah berkunjung dan berkomentar disini, amin semoga laris ya ... buku Palingan Wajah Garuda :)

      Delete
  5. Maaf Kak, numpang promo. :D

    USIA BELUM TUA TAPI RAMBUT SUDAH MEMUTIH?
    ITU RAMBUT APA BIHUN?

    Baca selengkapnya di http://rambut-mu.blogspot.co.id/2016/10/cara-menghitamkan-rambut.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Toko Ungu sudah berkunjung disini, Commentarnya mana????, comment dulu baru promosi gan

      Delete
  6. Negri mereka yg rakyatnya masih 'terjajah', pada hakikatnya adalah negeri tsb belum merdeka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas Ars Desain sudah berkunjung dan berkomentar disini, Merdeka sih sudah, tetapi petingginya belum punya bahasa yang lebih baik :)

      Delete
  7. Replies
    1. Terima kasih Mas Tipta Santa sudah berkunjung dan berkomentar disini, kita saling berbagi informasi yang baik agar kita punya rasa peduli terhadap sesama :)

      Delete
  8. Nice Info,, :)Btw Dapet Inspirasi dari mana nih?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Kupang Android Club sudah berkunjung dan berkomentar disini, ini kisah sebenarnya ketika saya memperpanjang SIM

      Delete
  9. Artikel yang menarik , itu yang terjadi di kehidupan kita sehari hari , ini beneran kisah nyata mbak ? Salut buat mbak nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak Rino Susanto sudah berkunjung dan berkomentar disini, ini kisah nyata ketika saya memperpanjang SIM :)

      Delete
    2. Inspiring Mbak... mudah2an memotivasi yang lain buat menulis

      Delete
  10. Inspiring ceritanya.. Rajin2 update mbak, pasti banyak yang baca dan nungguin. Nuhun sudah beri saya pencerahan

    ReplyDelete
  11. Inspiratif. Mudah2an makin banyak pembaca yang termotivasi dr blog ini ya Mbak.. jadi smangat menulis

    ReplyDelete