Sunday, 5 December 2021

Sejarah Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia

 

Sejarah Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia
Sejarah Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia


Memasuki akhir tahun 2021, tepatnya tanggal 1 Desember merupakan hari Aids Sedunia, kita semua mengharapkan untuk pencegahan dan pengendalian HIV AIDS di Indonesia baik stigma maupun diskriminasi terhadap ODHA dapat menurun bahkan hilang sama sekali. Karena itu kami Komunitas Sahabat Blogger mengikuti live streaming youtube Berita KBR bersama dr. Adi Sasongko selaku Ketua Badan Pengawas YKIS (Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat) serta Bram selaku ODHA, dengan tema “Sisi Lain Sejarah Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia“ yang dipandu oleh host Ines Nirmala.

 

Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat berdiri tgl 22 Desember 2017 yang didirikan oleh dr. Nafsiah Mboi, Prof. dr. Syamsuridzal Djauzi dan Prod. dr. Zubairi Djoerban. dr. Adi Sasongko selaku Ketua Badan Pengawas YKIS mengatakan bahwa kasus AIDS di Indonesia pertama kali terdeteksi tahun 1987, dan berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2020 ada jumlah ODHA diperkirakan mencapai 543.000 orang.

 

Banyak orang yang menganggap bahwa penyakit HIV AIDS sangat menular, padahal penyakit HIV AIDS bisa dicegah dan bisa diobati. Namun, HIV AIDS dapat menular dengan dua cara yaitu berhubungan seksual dalam arti orang yang suka berganti pasangan dan kontak darah melalui jarum suntik sesama pemakai narkoba atau lewat transfusi darah. Yang perlu dipahami bahwa penyakit HIV AIDS memiliki masa inkubasi yang cukup lama 5 hingga 10 tahun untuk menunjukkan gejala, sehingga terkadang orang yang sudah terinfeksi HIV AIDS tidak menyadarinya.

 

Narasumber & host Ines Nirmala
Narasumber & Ines Nirmala


Infeksi HIV AIDS ada 2 tahap yaitu :

1. Tahap HIV plus, pada tahap ini orang yang terinfeksi HIV AIDS belum menunjukkan gejala sakit, secara fisik tidak ada perbedaan sama sekali, namun bila di tes darah akan ditemukan virus HIV AIDS. Penyakit AIDS tahap HIV plus ini, masih bisa diobati dengan minum obat Antirestroviral yang dapat menurunkan tingkat kesakitan dan tingkat kematian HIV plus

2. Tahap Akhir AIDS, pada tahap ini orang sudah divonis terkena AIDS. Itu artinya penurunan berat badan yang drastis karena virus ini sudah menyerang kekebalan tubuh, akibatnya penderita akan mengalami berbagai keluhan infeksi yang parah sehingga harus dilakukan perawatan di rumah sakit. Pada tahap akhir AIDS ini, resiko kematian akan lebih besar terjadi.

 

Paparan Bram ODHA (orang dengan HIV AIDS) 

Bram adalah orang dengan HIV AIDS, ini terjadi di tahun 2016, saat itu Bram masih berusia muda dengan melakukan kegiatan seks yang berisiko, namun Bram masih beruntung karena penyakitnya bisa cepat terdeteksi sehingga pengobatan dapat segera dilakukan.

 

Narasumber : Bram ODHA
Narasumber : Bram ODHA

Saat Bram mengetahui positif HIV AIDS, bram tidak terlalu terkejut. Karena sebelum-nya Bram telah diberi tahu oleh petugas dari berbagai kemungkinan yang terjadi sehingga dia lebih bisa menerima kalau melakukan gonta ganti pasangan dalam melakukan seks akan tertular penyakit HIV AIDS.

 

Untuk mengobati Penyakit HIV AIDS ini, Bram mengkonsumsi secara rutin obat Antirestroviral (ARV) seumur hidup, karena itu kondisi kesehatan hati dan ginjal harus baik. Efek yang dirasakan setelah minum obat AVR, Bram merasakan pusing, namun itu hanya dirasakan dua minggu pertama saja.

 

Disini, Bram menyampaikan beberapa stigma yang dirasakan sebagai ODHA, Bram dikucilkan oleh masyarakat dan keluarga. Akibatnya ODHA tidak mau mengakui kondisinya kepada pasangannya atau orang-orang terdekat, sehingga orang yang terkena HIV AIDS menyebabkan resiko keparahan dan tentunya penularan lebih besar terjadi.  

 

Bram punya trik tersendiri agar keluarga besarnya tahu dan paham atas kondisinya yaitu dengan cara memberikan informasi tentang HIV AIDS sebanyak-banyaknya. Walaupun ODHA Bram tetap optimis, bisa berdamai dan menerima diri sendiri seutuhnya, jadi tidak ada lagi rasa minder, apalagi putus asa.

 

Untuk menutup webinar ini dr. Adi Sasongko menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu mendiskriminasi ODHA, karena penularan HIV AIDS tidak semudah flu, batuk atau penyakit menular lainnya. Semoga tahun 2030 yang akan datang, Indonesia bisa bebas dari HIV AIDS, Aamiin ya robbal alamin. Terima kasih, semoga tulisan webinar ini sangat bermanfaat.

 

 

Salam Blogger

Sumiyati Sapriasih

Wa No. 085779065707

Email : sumiyatisapriasih@yahoo.com

 

 

1 comment :