Monday, 18 March 2019

Cegah Kanker Serviks Dengan Vaksinasi HPV


Yuki Kato & Dr. Venita Eng.MSc
Tahun lalu dunia hiburan telah kehilangan selebriti Yulia Rahmawati (Jupe) akibat bertahun-tahun menderita kanker serviks, yaitu Kanker yang terjadi di daerah serviks (leher rahim) pada bagian bawah rahim yang menghubungkan rahim dan vagina. Dimana fungsi dan sifat sel kanker 99,7% rentan terhadap infeksi Human Papilloma Virus (HPV). Oleh karena itu duta kanker serviks Cinta Laura Kiehl perduli akan nasib perempuan dengan membuktikan langkah nyatanya dalam upaya mengadvokasi masyarakat akan pencegahan kanker serviks.

Dari data GLOBOCAN (Global Burden Cancer) tahun 2018 angka kematian akibat kanker serviks di Indonesia mencapat 18.278 pertahunnya. Dan faktanya lebih dari 70% kanker serviks banyak ditemukan pada perempuan usia produktif. Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan kesadaran masyarakat untuk melakukan pencegahan dini

Apa itu HPV (Human Papilloma Virus)

HPV adalah virus yang menyebabkan kutil kelamin bisa berakibat kanker pada vagina, kanker vulva, kanker mulut dan tenggorokan, kanker anus serta pada laki-laki dapat menyebabkan kanker penis. Karena 8 dari 10 orang terpapar HPV selama hidup mereka :
·     Siapapun beresiko terinfeksi HPV.
·     Penularan HPV bisa secara seksual maupun non-seksual.

Rekomendari WHO

Tahun 2016 data WHO sebanyak 67 negara seperti Australia, Malaysia dan Thailand telah mengimplementasikan program Vaksinasi HPV dan Pap Smear / Iva Test. Dengan adanya vaksinasi HPV selain melindungi kanker serviks dapat juga melindungi dari berbagai macam penyakit lainnya yang disebabkan oleh virus HPV
Pameran Foto #IamTrulyWoman
Pada kesempatan ini KICKS (Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks) memberikan vaksinasi HPV untuk pencegahan primer kepada Cinta Laura Kiehl dan Yuki Kato dalam rangkaian kegiatan pameran foto #IamTrulyWoam yang dapat dikunjungi tanggal 8 – 15 maret 2019 di Atrium level 4, Plaza Indonesia.

Kebetulan, kami Komunitas Sahabat Blogger mendapat undangan dari KICKS untuk melihat langsung 2 selebriti untuk melakukan Vaksinasi HPV di depan pengunjung yang hadir untuk membuktikan bahwa pentingnya menjaga kesehatan, karena kita pastinya punya mimpi dan harapan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, kita harus melakukan yang terbaik untuk tetap sehat dan produktif, jangan sampai mimpi dan harapan terhenti hanya karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah, ucap Cinta Laura Kiehl.

Komunitas Sahabat Blogger
Lain lagi yang disampaikan oleh selebriti Yuki Kato bahwa perempuan saat ini dapat memiliki peran yang aktif untuk dapat menjaga kesehatannya. Saya berharap dengan melakukan vaksinasi HPV ini, perempuan Indonesia dapat melindungi dari bahaya kanker serviks yang sebenarnya dapat dicegah dengan Vaksinasi HPV karena mencegah lebih baik dari pada mengobati.

Fakta Vaksinasi HPV
· Vaksin HPV sudah terbukti keamanannya, karena vaksin HPV telah mengalami uji klinis yang dilakukan oleh otoritas kesehatab pemerintah dan akhirnya bisa disebarkan ke masyarakat.
·   Vaksinasi HPV disarankan pada anak-anak sejak usia dini 9 tahun, karena di usia tersebut respon kekebalan tubuh anak sedang berada dalam tahap terbaiknya, sehingga mampu dengan efektif mengembangkan sistem antibodi terhadap virus HPV yang mapan dalam jangka panjang.
·   Vaksin HPV tidak menimbulkan efek samping, memberi kemerahan pada daerah bekas suntikan. Bila terjadi syncope (pingsan sesaat) itu tidak berbahaya, disarankan untuk tetap duduk selama minimal 15 menit setelah pemberian vaksin.
·   Vaksin HPV tidak menyebabkan masalah kesuburan wanita.


Diakhir acara Dr. Venita Eng, MSc, perwakilan dari YKI DKI mengatakan bahwa “banyak masyarakat Indonesia yang belum mengetahui bahwa kanker serviks dapat dicegah dengan melakukan vaksinasi HPV”. Semoga dengan adanya himbauan secara langsung pemberian vaksinasi HPV, diharapkan dapat menjangkau lebih banyak lagi perempuan Indonesia untuk tersadar akan pentingnya melakukan pencegahan vaksinasi HPV dan deteksi dini.

Salam Blogger
Sumiyati Sapriasih
Wa no. 089616613396




Wednesday, 6 March 2019

Perlunya Penyebaran Informasi Penyakit Langka Atau Rare Disease


Penyakit langka merupakan penyakit genetika atau keturunan biasanya bersifat kronis, progesif dan mengancam kehidupan penderita. Oleh karena itu dalam rangka memperingati hari penyakit langka sedunia 2019, Sanofi bersama Yayasan MPS dan Penyakit langka Indonesia mengadakan sharing session untuk memberikan informasi dan membahas mengenai tantangan dan harapan kepada para pasien penyakit rare disease dengan nara sumber Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA (k) dan para orang tua pasien.

Perlu diketahui bahwa secara umum di Indonesia terdapat 7.000 Jenis penyakit yang dapat diklasifikasikan sebagai penyakit langka dengan memiliki gejala yang berbeda-beda. Gejala yang muncul seringkali menyerupai penyakit lain sehingga menyulitkan diagnosis awal penyakit langka, berdampak pada kesalahan diagnosis dan perawatan. Untuk mengenal lebih jauh inilah beberapa jenis penyakit langka antara lain :
Lysosomal Storage Disorders merupakan penyakit metabolisme bawaan yang terjadi akibat kurangnya enzim tertentu dalam tubuh seseorang. dimana sel organelle yang mencerna makro molekul dalam jumlah yang besar sehingga jumlahnya bisa dikurangi. Hal ini bisa mengakibatkan lemak dan gula menumpuk di dalam lysosome yang dapat memengaruhi organ tubuh seperti pembengkakan pada limpa dan hati, kelainan bentuk tulang, penurunan perkembangan otak, kehilangan sensori pendengaran dan penglihatan serta bentuk wajah yang khas karena kelainan kromosom dan genetika.

MPS II yaitu penyakit genetika yang disebabkan karena tidak adanya enzim iduronate sulfatase yang memiliki peranan penting untuk memecahkan mucopalysaccharides (rangkaian molekul gula yang berfungsi untuk menyambungkan jaringan lunak pada tubuh), dermatan dan heparin sulfate. Pada umumnya penderita adalah laki-laki, namun tidak tertutp kemungkinan bagi ibu carrier (carrier-nya adalah saudara perempuan atau saudara kandung ibu yang perempuan) kemungkinan 50% anak laki-lakinya akan terlahir penyakit MPS II. Penyakit ini dapat diatasi dengan terapi enzim yaitu penggunaan intravenous solution untuk menggantikan enzim yang kurang ataupun hilang dari tubuh.

Gaucher Disease yaitu kurangnya enzim acid-b glucosidase pada tubuh yang berfungsi untuk memecah substansi lemak glugosylceramide (GL-1). Gejalanya, ketika tubuh tidak menghasilkan jumlah enzim yang cukup, maka GL-1 akan menumpuk pada bagian sel lysosomes. Proses ini akan membuat sel menjadi semakin besar, sel besar inilah disebut sel Gaucher. Pada umumnya, perut penderita menjadi besar karena limpa yang membesar, kemudian rasa nyeri pada tulang dan sendi, cepat merasa letih, pendarahan mudah memar.

Pompe Disease disebabkan oleh kekurangan atau disfungsi enzim yang disebut asam alfa glukosidase (GAA) yang tidak bekerja sebagaimana mestinya sehingga glikogen menumpuk di otot yang menyebabkan IOPD (infantile Onset Pampe Disease) dan LOPD (Penyakit Pompe Onset Akhir) melemah, karena glikogen tidak dapat dipecah oleh enzim GAA yang menyebabkan peda lysosome.

Glucosa Galactose Malabsorption (GGM) yaitu kelainan metabolisme genetic dimana usus kecil tidak mempu mencerna, menyalurkan dan menyerap glukosa serta galaktosa dimana kedua unsur ini memiliki struktur kimiawi serupa, dimana GGM disebabkan mutasi kromosom 22 sehingga enzim tidak dapat berfungsi secara normal. Obat khusus bagi pengidap GGM yang masih bayi berbentuk susu formula hidroalergenik atau katogenik yaitu susu tanpa kandungan glukosa ataupun galaktosa. Susu khusus ini hanya diproduksi setahun sekali.

Itulah  beberapa penyakit langka yang disebutkan dalam sharing session di gedung Graha Dirgantara Function Hall, lt dasar Jl. Protokol Halim perdana kusuma no.8 Jakarta Timur 13610. Dimana selaku ketua Yayasan MPS dan Penyakit Langka Indonesia ibu Feni Tami memberi kesempatan juga kepada orang tua dari pasien penyakit Rare Desiase.


Ibu Fifi Yenti adalah orang tua dari Umar Abdul Azis pasien MP II, memerlukan waktu 1 tahun lebih untuk mendapatkan diagnosis yang tepat untuk penyakit yang diderita oleh Umar Abdul Azis ini, karena sulitnya mendapatkan diagnosis yang tepat sehingga harus menjalankam uji medis yang panjang. Ibu Fitri Yenti awalnya tidak mengetahui penyebab terganggunya pertumbuhan Umar, kemudian ada seorang dokter merujuk ke rumah sakit Cipto Mangunkusuma (RSCM) Jakarta dan baru terdiaknosis berusia 3 tahun 7 bulan, dimana ia mengalami kemunduran dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

Bapak Agus Sulistiyono ayah dari Pinandito Abid Rospati pasien Pompe Disease. Terdiagnosis ketika Dito masih berumur 3 tahun, akibat penyakit ini Dito harus mengandalkan alat ventilator untuk membantunya bernafas dan obatnya sejenis orphan drug yang sulit di dapat, sekalipun ada obatnya harus dipesan dari luar negeri dengan harga yang sangat mahal. Beban psikologi merupakan tantangan bagi orang tua Dito.

Ibu Amin orang tua dari Athiyatul Maula pasien penyakit Gaucher Disease, dengan perjalanan panjang akhirnya di RSCM bertemu dengan Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA (k) sehingga menemukan diagnosis tepat. Jadi jangan pernah mengucilkan anak yang terkena penyakit langka. Karena “Setiap anak adalah generasi pemimpin masa depan dan harapan bangsa, oleh karena itu diharapkan pemerintah dapat mendukung anak-anak dengan penyakit langkadalam menghadapi tantangan untuk memastikan akses yang sama ke layanan kesehatan dan kehidupan berkualitas.

Saya berharap kepada masyarakat dan pemerintah yang terkait dalam hal kesehatan makin berperan dalam langkah mempermudah akses jalannya pengobatan treatment yang tepat, maka kualitas hidup mereka pun akan membaik, tutur ibu Feni Tami.

Salam Blogger
Sumiyati Sapriasih
Wa. No. : 089616613396