Sunday, 27 August 2017

Peta Jalan Literasi Digital Anak Indonesia

Peta Jalan Perlindungan Anak 
Literasi digital merupakan kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten atau informasi dengan kecakapan kognitif maupun teknikal. Ada beberapa framework untuk literasi digital yang dapat ditemukan di Internet dengan ragam nama dan bentuk.

Kamis, 24 Agustus 2017 Kementerian Komunikasi dan Informatika bersma Indonesia Internet Governance Forum, Indonesia Child Online Protection menggelar acara Talkshow “Tapak Jalan Literasi Digital Anak Indonesia” yang dihadiri oleh Para Blogger, Mahasiswa, Siswa SMP maupun Siswi SMA dan instansi terkait berlokasi di Ruang Rapat Anantakupa Lantai 8 Kementerian Komunikasi dan Informatika – Jakarta Pusat.
Moderator Putra Nababan beserta 3 Narasumber
Sebagai Narasumber Bapak Samuel Abrijani Pangerapan selaku Direktur Jenderal Aplikasi Informatika mengatakan bahwa social media saat ini merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia, awal tahun 2011 akses internet sudah dijangkau melalui gadget pada anak usia 5 tahun, betapa riskan nya jika tidak didampingi oleh orang tua yang mana penyebaran konten negatif sudah merajela. Lebih dari 132 juta atau 51 % dari total populasi Indonesia terhubung satu dengan yang lainnya melalui dunia maya dengan berbagai perangkat digital, sehingga sekitar 800 ribu konten dari 2,4 juta situs berkonten negatif sudah berhasil diberantas jelas Bapak Samuel Abrijani Pangerapan.

Narasumber kedua ibu Valentina Gintings selaku Deputi Bidang Perlindungan anak mengatakan bahwa untuk memaknai dan mewarnai tentang dinamika perlindungan anak Indonesia di internet, sangatlah penting peran orang tua untuk membimbing dan memberi pengarahan ketika dia bermain internet dari konten yang negatif. Apabila anak terlalu sering menggunakan gadget tanpa pendampingan orang tua, anak akan jarang beraktivitas di luar ruangan dan berkurangnya kesempatan berinteraksi dengan teman-teman. Akibatnya berkurang juga kualitas interaksi sosial dengan orang-orang di sekitarnya.

Kerangka Literasi Digital Indonesia 
Oleh sebab itu Tim Pengarah Perlindungan Anak Indonesia di Internet Ibu Maria Advianti mengatakana bahwa keprihatinannya teradap dunia digital dengan konten negatif sangat membahayakan bagi keselamatan jiwa remaja, untuk itu Internet sehat mengedepankan kebebasan berekspresi di internet secara aman dan bijak melalui :
  1. Self-filtering hanya dapat efektif dilakukan pada tingkat institusi keluarga dirumah dan pendidikan disekolah.
  2. Menumbuhkan konten local yang positif, bermanfaat dan menarik bagi anak, remaja dan masyarakat setempat.
  3. Dialog dan kerjasama inklusif, sinergis dan setara untuk tata kelola internet antar pemangku kepentingan majemuk (multistakeholder), pemerintah, swasta, masyarakat sipil, akademis dan komunitas teknis.
Dari sudut pandang RAS Foundation Ibu Marsha Tengkar sebagai Pegiat Indonesia Child Online Protection mengatakan bahwa Maraknya konten yang melanggar hukum semisal pornografi hingga radikalisme maupun keberadaan perilaku online yang tak sepatutnya perundungan hingga pedofilia, merupakan ancaman serius bagi keselamatan generasi muda Indonesia di internet. Itulah pentingnya keberadaan Buku Peta Jalan Perlindungan Anak Indonesia di Internet ini.
 Seminar Literasi Digital 
Mari kita bergandengn tangan untuk mengatasi masalah, karena sesibuk apapun orang tua bekerja dan gagap dalam teknologi adalah pemicu utama yang menyebabkan konflik antara orang tua dan anak? Yuk … cari tahu bagaimana strategi yang lebih baik untuk mengatasi konten negatif, semua ini sudah dipaparkan diatas dengan 3 prinsip internet sehat.           
   
Salam Blogger
Sumiyati Sapriasih
Telp No. : 089616613396




4 comments:

  1. Mak, jd pengen punya bukunya,
    Byr lbh tahu nih soal langkah yg harus ditempuh utk melindungi si kecil,makasih sharingnya ya mak, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sok atuh beli bukunya biar lebih paham ya ....

      Delete
  2. Suka miris juga saat anak anak lebih suka main gadget daripada belajar, lebih miris lagi saat ada orang yang melegalkan wifi buat konsumsi anak-anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jaman sekarang sudah canggih, dampingi anak ketika main gadget, itu lehih aman

      Delete