Sunday, 4 December 2016

Warisan Dunia Jangan Biarkan Punah Mari Ber-Doodle On Daluang

Usmayadi Rameli, Tanti Amelia, Esti Utami, Astri Damayanti, Nova, Prof. Sakamoto
Kamis, 1 Desember 2016 saya memasuki museum Textile untuk kedua kalinya dalam acara workshop bersama Founder Kriya Indonesia, sebelum memasuki ruangan lebih dalam, dipintu masuk terdapat Tulisan “Wastra Kulit Kayu, Warisan Dunia”.
 
Seiring berjalanya waktu, banyak hal-hal yang ditinggalkan. Sejak orang Indonesia telah memiliki akses terhadap wastra tenun yang lembut dan lentur, mereka secara perlahan menghentikan cara-cara lama berpakaian menggunakan bahan yang disediakan oleh lingkungan sekitar, seperti anyaman dari serat dan kulit kayu. Meskipun demikian, kulit kayu sebagai bahan pakaian masih bertahan hingga saat ini di lembah-lembah pegunungan Sulawesi Tengah.
Saat ini, Sulawesi Tengah merupakan salah satu tempat di mana wastra kulit kayu masih dibuat, sebagai pakaian kulit kayu yang digunakan pada acara-acara khusus, seperti ketika menyambut tamu yang datang ke desa, sebagai pertunjukan budaya, atau ketika menikah.
Pada tahun 2014, pemerintah menetapkan tradisi kulit kayu sebagai warisan budaya tak benda, dimana kulit kayu terus hidup hingga beberapa waktu ke depan. Kuncinya, selain melestarikan tradisi, juga menemukan penggunaan baru yang lebih cocok untuk kehidupan kontemporer.
Perhatian khusus terhadap karya seni rupa yang masih dibuat pada kulit kayu kasar di kawasan Danau Sentani Kabupaten Jayapura, Papua. Bakat alami orang Papua terhadap seni telah beralih dari menghias pakaian kulit kayu menjadi seni hiasan dinding yang cukup bernilai.
Tidak banyak diketahui bahwa wastra kulit kayu bukan hanya digunakan sebagai pakaian, tetapi selama berabad-abad telah digunakan sebagai media untuk melukis di Kamasan Bali dan lukisan wayang beber di Ponorogo dan Pacitan Jawa Timur.

35 Blogger Workshop Doodle On Daluang Kain Kulit Kayu
Sebanyak 35 Orang blogger menghadiri workshop doodle on daluang kain kulit kayu. Turut hadir disini Kepala Museum Seni DKI Jakarta Ibu Esti Utami, Prof. Sakamoto, Ahli Kertas dari Jepang, Perwakilan dari Kartini Blue Bird Ibu Nova, Kepala Asisten Deputi Bidang Kebudayaan DKI Jakarta Bapak Usmayadi Rameli, Founder Kriya Indonesia Ibu Astri Damayanti dan Ibu Tanti Amelia Teacher Doodle.
 
Penyerahan Lukisan
Sebelum workshop dimulai kita menyaksikan penyerahan lukisan oleh :
  • Kepada Asisten Deputi Bidang Kebudayaan DKI Jakarta, Bapak Usmayadi Rameli oleh mbak Tanti Amelia.
  • Kepada Prof. Sakamoto, Ahli Kertas dari Jepang oleh mbak Nova dari Kartini Bluebird.
  • Kepada Kepala Museum Seni Ibu Hesti Utami oleh mbak Astri Damayanti Founder Kriya Indonesia  


Bapak Usmayadi Rameli mengatakan bahwa museum ini harus diisi dengan kegiatan seni biar terlihat ramai pengunjungnya agar bisa melihat koleksi yang ada di Museum Textile. "Belajar diwaktu kecil bagaikan lukis diatas batu. Belajar sesudah dewasa bagaikan lukis diatas air". Nah itulah kata yang diucapkan ketika Bapak Usmayadi mengakhiri sambutannya. Jadi tidak ada kata terlambat untuk belajar. Yuk intip koleksi-koleksi daluang kain kulit kayu               
 
Koleksi-Koleksi Daluang Kain Kulit Kayu
 
Apakah ada persamaan antara Fuya, Daluang dan Tapa?
Fuya merupakan sebutan kain kulit kayu yang sejak ribuan tahun yang lalu sudah ada di Sulawesi Tengah. Kalau di Jawa kain kulit kayu lebih dikenal dengan nama Daluwang, sejarahnya pada tahun 1646 pernah ada seseorang yang berjalan dari Jawa Timur ke Jawa Barat dengan memakai baju putih longgar dari kertas kayu, hanya saja penggunaan kain kulit kayu sebagai baju di Jawa sangat sedikit sekali. Kebanyakan kain kulit kayu di Jawa digunakan sebagai media tulisan atau lebih dikenal sebagai druwang yang artinya kertas. Naskah-naskah kuno yang ditemukan di pulau jawa kebanyakan ditulis pada kertas kulit kayu atau Daluang. Sedangkan Tapa merupakan sebutan kain kulit kayu di seluruh dunia, terutama di Pasifik seperti Hawaii juga Mexico. Untuk pertama kalinya istilah Tapa diperkenalkan oleh pelaut Marcopolo.
Saat ini para pengrajin memang hanya menjual kain kulit kayu dalam bentuk lembaran, harga kain kulit kayu ditingkat pengrajin berkisar antara Rp 150.000,- hingga Rp 350.000,-. Ini tergantung dari bahan baku, jika dibuat dari kulit kayu Saeh maka harganya bisa lebih mahal dibandingkan kain yang dibuat dari Kayu Malo ataupun Beringin, apabila menggunakan kulit kayu Malo atau kayu Beringin perlu dilakukan perebusan terlebih dahulu agar kayu lebih empuk ketika dipukul nantinya. Jika dilihat dari lama pembuatannya antara 4 sampai 6 hari, maka harga tersebut boleh dibilang sangat murah. Proses yang harus dilalui untuk satu lembar berukuran 1mx1,5m dengan mengambil kulit kayu dari pohonnya, kemudian kulit tersebut dibersihkan dengan air mengalir. Maka tak heran harga kain kulit kayu harganya mencapai Rp 55,-/cm atau sekitar Rp 550.000/meter     

Nak sekarang waktunya nge doodle bersama guru kita Mbak Tanti Amelia :
Pelatihan doodle oleh mbak Tanti Amelia
Semua peserta diberikan seperangkat alat melukis berupa pensil, penghapus, kertas gambar, kuas, gelas plastik berisi air dan kertas daluang. Pertama kita perhaikan apa yang guru ajari melukis diatas kertas, jadi biar ada gambaran kita mau bikin apa. Kemudian lukislah yang ada disekitar kita, karena lokasi di museum Textile yang ada hanya patung ondel-ondel buat objek lukisan hari ini.
Untuk pertama kalinya saya melukis diatas kain kulit kayu, kerjanya harus extra hati-hati, saya mencoba  melukis 2 orang ondel-ondel yang sedang berjalan diatas rumput. Ambil pensil lalu kugoreskan diatas kain kulit kayu, jadi inget waktu TK, pernah menggambar artistik dengan guratan pewarna yang diencerkan air lalu ambil sisir dan sikat gigi untuk diseratkan diatas kertas yang kita lukis, itu pengalaman saya ketika masih Paud.
Lanjut ke doodle, setelah lukisan sudah rampung diatas kain kulit kayu, sekarang tinggal beri warna dengan cat cair. Untuk wajah dan bagian tubuh kita beri campuran warna putih dan coklat agar terlihat kulit sawo matang, alis dan mata boleh warna coklat atau hitam dan selanjutnya kita sesuaikan warna selera yang penting masuk dalam pewarnaan. Inilah hasilnya walaupun tidak sebagus kepunyaan sang guru.  
Hasil Daluang Kain Kulit Kayu
Terima kasih mbak Astri Damayanti dan mbak Tanti Amelia yang telah mengajarakan kami untuk ber-doodle on daluang kain kulit kayu. sampai jumpa workshop berikutnya.
 

Salam Blogger
Sumiyati Sapriasih
Email : sumiyatisapriasih@yahoo.com

 

6 comments:

  1. Saya baca," Kalau di Jakarta... Daluang..." menurut saya bukan di Jakarta, maksudnya Di Jawa ya Mak Sum.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih om Jun Joe Winarto sudah berkunjung dan berkomentar disini, sudah diralat thanks you atas koreksinya :)

    ReplyDelete
  3. Terimakasih banyak atas tulisannya mbak Sumiyati, semoga bisa kembali menggali budaya lokal yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh guruku ada disini, aku juga terima kasih sudah mau mengajarkan memberi ilmu yang luar biasa, terima kasih mbak Tanti Amelia :)

      Delete
  4. Saya pikir fuya hanya di Sulawesi ternyata sebagian besar Indonesia dahulu juga memakai pakaian dari fuya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak Helenamantra sudah berkunjung disini, sebenarnya warisan Indonesia banyak loh, namun penggunaanya kurang, cuma orangnya saja kalau tidak pake baju import kurang kekinian katanya "

      Delete